Langsung ke konten utama

MINDER

Jumat, 13 september 2019

apa sih minder?
Seringkah aku atau kita minder?
Aku pribadi  pernah bahkan sering.
Biasanya perasaan minder muncul karena sesuatu yang kita ga mampu tapi mampu dilaksanakan sama orang lain. Tapi, beda sama iri yaa^^

Minder, menurut KBBI berarti rendah diri. Dimana kita merasa kecil, merasa kurang percaya diri atas apa yang kita miliki. Sebenarnya, aku ingin menulis hal ttg minder ini berdasarkan pengalaman ku sendiri sih hehe

Beberapa waktu yang lalu, alhamdulillah aku diberi kesempatan sama Allah SWT untuk mengikuti kegiatan Gita Bahana Nusantara di Istana Negara
대박!!
Kegiatan itu ialah kegiatan dimana para musisi hebat dari seluruh indonesia berkumpul untuk memeriahkan HUT RI di Istana.
Sebenarnya, kalimat musisi hebat itu memang benar, tapi gak cocok buat aku.

Berada di lingkungan orang orang hebat, memang menyenangkan. Tapi, aku saat itu tidak. Sebagai seseorang yang tidak memiliki latar belakang musik, aku saat itu sangat sulit untuk memenuhi ekspektasi mereka yang menganggap bahwa anak anak gbn merupakan "maestro" semua.
Terlebih, aku tinggal di sebuah desa yang jauh dari pusat kota, sulit untuk menemukan dan mengembangkan bakat disini. Guru musik sangat jarang. Ada pun, kita harus pergi ke kota agar bisa belajar musik.

Sekuat tenaga, aku mencoba mengimbangi kemampuan mereka dengan belajar siang malam. Dan hasilnya tetap sama. Aku takut bila nanti gara gara aku provinsi ku malu. Aku merasa paling useless. Dan saat tiba pun, aku dibuat bergetar dengan kemampuan bernyanyi mereka yang diatas rata rata. Benar benar hebat.

Saat dikamar, aku lbh memilih untuk merenung dan mencoba belajar dan belajar. Tapi, aku lbh memilih untuk tidak menampakkan rasa minder ku dan rasa insecure ku. Aku menyimpan mereka dengan rapi. Walau terkadang perasaan nya terluap di ujung hari.
Dan pada akhirnya, rasa stress dan minderku berujung pda aku jatuh sakit disana.
Aku seorang penderita gerd. Saat latihan gabungan dengan orkestra, aku jatuh pingsan yang kemudian merepotkan pada akhirnya. Ga ada yg bisa aku lakukan, selain mengeluarkan air mata. Aku ingat orang tua, aku kangen mereka, aku ingin pulang.
Dokter menyarankan aku untuk tidak terlalu stress dan memforsir latihan ku. Aku seseorang yang mudah panik dan stress dan itu merupakan akar dari sakitku. 

Perlahan tapi pasti aku mencoba untuk tenang dan mendekatkan diri kepada Allah. Berdoa agar senantiasa diberi kelancaran. Walaupun menahan sakit, tapi aku harus bisa menunaikan kewajiban^^
Yaa walaupun seperti itu, alhamdulillah aku bisa melewati semua dengan lancar^^

Sebenarnya, yang ku ceritakan tadi merupakan salah satu dari sekian banyak kisah minder ku. Mulai dari minder dgn temen yang bisa istiqomah, minder sm temen yg lbh cantik, minder sama temen yang ekonomi nya lbh tinggi dsb.
Dan semua yang aku sampaikan tadi ada kaitannya dengan rasa syukur. Saat aku sakit, ibu dokter tadi mengingatkan aku untuk senantiasa bersyukur.
"Missi, ga semua orang bisa seperti kamu. Bisa ke istana. Seharusnya, missi harus lebih byk bersyukur terhadap apa yang sudah missi capai. Lakukan apa yg buat kamu bahagia" kata buk dokter dan sontak membangunkan ku dari rasa minder ku.

Tapi memang benar, segala di dunia ini diciptakan dengan porsi yang tepat dan sesuai. Manusia hebat dalam suatu hal, tapi tidak dengan segala hal. Allah menciptakan manusia berbeda kemampuan agar kita senantiasa bersyukur dan lebih mengasah kemampuan tersebut.
Aku sempat merasa bersalah, karena seolah menyalahkan diri sendiri atas segala takdir yang telah allah beri. Aku benar benar salah. Aku selalu mencoba meraih bintang yang ga bakal bisa kugapai  dengan tangan pendekku sehingga aku lupa tanganku masih bisa memberi pertolongan seolah menjadi bintang untuk mereka.

Semua diciptakan dengan bintang nya sendiri, dengam galaksinya sendiri, dengan cahaya sendiri. Jangan hanya mencoba untuk meraih bintang, tapi jadilah bintang tersebut.

Komentar